Minggu, 20 Februari 2011

definisi kabudayaan jeung sunda


A.  Definisi Kebudayaan
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
1. Edward B. Taylor
Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adapt istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.
2. M. Jacobs dan B.J. Stern
Kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi social, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan warisan social.
3. Koentjaraningrat
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan relajar.
4. Dr. K. Kupper
Kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan pengarah bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku, baik secara individu maupun kelompok.
5. William H. Haviland
Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di tarima ole semua masyarakat.
6. Ki Hajar Dewantara
Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
7. Francis Merill
  • Pola-pola perilaku yang di hasilkan oleh interaksi social
  • Semua perilaku dan semua produk yang dihasilkan oleh sesorang sebagai anggota suatu masyarakat yang di temukan melalui interaksi simbolis.
8. Bounded et.al
Kebudayaan adalah sesuatu yang terbentuk oleh pengembangan dan transmisi dari kepercayaan manusia melalui simbol-simbol tertentu, misalnya simbol bahasa sebagai rangkaian simbol yang digunakan untuk mengalihkan keyakinan budaya di antara para anggota suatu masyarakat. Pesan-pesan tentang kebudayaan yang di harapkan dapat di temukan di dalam media, pemerintahan, intitusi agama, sistem pendidikan dan semacam itu.
9. Mitchell (Dictionary of Soriblogy)
Kebudayaan adalah sebagian perulangan keseluruhan tindakan atau aktivitas manusia dan produk yang dihasilkan manusia yang telah memasyarakat secara sosial dan bukan sekedar di alihkan secara genetikal.
10. Robert H Lowie
Kebudayaan adalah segala sesuatu yang di peroleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistic, kebiasaan makan, keahlian yang di peroleh bukan dari kreatifitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang di dapat melalui pendidikan formal atau informal.
11. Arkeolog R. Seokmono
Kebudayaan adalah seluruh hasil usaha manusia, baik berupa benda ataupun hanya berupa buah pikiran dan dalam penghidupan.
Kesimpulan
Dari berbagai definisi di atas, dapat diperoleh kesimpulan mengenai kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide gagasan yang terdapat di dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi social, religi seni dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.






B.   Arti Kata Sunda
Kata Sunda
            Adapun arti kata sunda secara leksikografis/etimologis, R. Mamun Atmamihardja dalam bukunya Sejarah Sunda I (1956) mencatat beberapa arti yang didasarkan pada berbagai kamus bahasa, yaitu:
A. Bahasa Sansekerta
1.                  SUNDA, sopan, bersinar, terang
2.                  SUNDA, nama Dewa Wisnu
3.                  SUNDA, nama ksatria buta (daitya) dalam cerita Upa Sunda dan Ni Sunda
4.                  SUNDA, ksatria kera (wanara) dalam Cerita Ramayana
5.                  SUNDA, dari kata Çuddha (= putih)
6.                  SUNDA, nama gunung di Bandung Utara
B. Bahasa Kawi
1.                  SUNDA, air
2.                  SUNDA, tumpukan
3.                  SUNDA, pangkat
4.                  SUNDA, waspada
C. Bahasa Jawa
1.                  SUNDA, penyusun
2.                  SUNDA, bersatu
3.                  SUNDA, dua (dari arti Candrasangkala)
4.                  SUNDA, dari kata Unda (= naik)
5.                  SUNDA, daru kata Unda (= terbang)
D. Bahasa Sunda
1.                  SUNDA, dari sa-unda dan sa-tunda (= lumbung padi)
2.                  SUNDA, dari kata Sonda (= bagus)
3.                  SUNDA, dari kata Sonda (= terkenal)
4.                  SUNDA, dari kata Sonda (= senang)
5.                  SUNDA, dari kata Sonda (= menyenangkan)
6.                  SUNDA, dari kata Sonda (= setuju)
7.                  SUNDA, dari kata Sundara (= laki-laki tampan)
8.                  SUNDA, dari kata Sundara (= nama Dewa Kamajaya)
9.                  SUNDA, dari kata Sundari (= perempuan cantik)
10.              SUNDA, indah
11.                  Arti “SUNDA” dalam Bahasa Sansakerta
12.              Menurut Bahasa Sansekerta yang merupakan induk bahasa-bahasa Austronesia, terdapat 6 (enam) arti kata SUNDA, yaitu sebagai berikut:
13.              (1)  SUNDA dari  akar kata “SUND” artinya bercahaya, terang benderang;
14.              (2) SUNDA adalah nama lain dari Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam;
15.              (3) SUNDA adalah nama Daitya, yaitu satria bertenaga besar dalam cerita Ni Sunda dan Upa Sunda;
16.              (4) SUNDA adalah satria wanara yang terampil dalam kisah Ramayana;
17.              (5) SUNDA dari kata cuddha artinya yang bermakna putih beresih;
18.              (6) UNDA adalah nama gunung dahulu di sebelah utara kota Bandung sekarang (Prof.Berg, juga R.P Koesoemadinata, 1959).


19.              B.      Arti “SUNDA” dalan Bahasa Kawi
20.              Dalam Bahasa Kawi terdapat 4 (empat) makna kata “SUNDA”, yaitu:
21.              (1) SUNDA berati “air”, daerah yang banyak air;
22.              (2) SUNDA berarti “tumpukan” bermakna subur;
23.              (3) SUNDA berarti “pangkat” bermakna berkualitas;
24.              (4) SUNDA berarti ”waspada” bermakna hati-hati.
25.               
26.              C.     Dalam Bahasa Jawa:
27.              Dalam Bahasa Jawa arti kata “SUNDA” adalah sebagai berikut:
28.              (1)  SUNDA berarti “tersusun “ maknanya  tertib;
29.              (2) SUNDA berarti “bersatu” ( dua menjadi satu) maknanya hidup rukun;
30.              (3) SUNDA berarti “angka dua” (cangdrasangkala), bermakna seimbang;
31.              (4) SUNDA, dari kata “unda” atau  “naik”, bermakna kualaitas hidupnya selalu naik;
32.              (5)  SUNDA berasal dari kata “unda” yang berarti terbang, melambung, maknanya disini adalah  semakin  berkualitas.
33.               
34.              D.    Arti kata “SUNDA” dalam Bahasa Sunda
35.                  Orang Sunda juga memiliki beberapa arti tentang kata “SUNDA” itu sendiri, yaitu:
36.              (1) SUNDA, dari kata “saunda”,  berarti lumbung, bermakna subur makmur;
37.              (2)  SUNDA, dari kata “sonda”,  berarti bagus;
38.              (3)  SUNDA,  dari kata “sonda”,  berarti unggul;
39.              (4) SUNDA, dari kata “sonda”,  berarti senang;
40.              (5) SUNDA, dari kata “sonda” berarti bahagia;
41.              (6) SUNDA, dari kata “sonda”, berarti sesuai dengan keinginan hati;
42.              (7) SUNDA, dari kata “sundara”,  berarti lelaki yang tampan;
43.              (8) SUNDA, dari kata “sundari”, berarti wanita yang cantik;
44.              (9)  SUNDA, dari kata “sundara” nama Dewa Kamajaya: penuh rasa cinta kasih;
45.                    (10)  SUNDA berarti indah.

mitologi cai di sunda jeung kabudayaan islam jaman kiwari


2.1 Pengertian Mitologi
Berbicara tentang mitos akan berkaitan erat dengan legenda, cerita, dongeng, nyanyian rakyat, semuanya termasuk kelompok folklor serta seluruh aspek budaya lainnya sebagai alat perekam nilai-nilai budaya masyarakatnya. Kesadaran perlunya nilai-nilai budaya adalah hal yang biasa. Besar manfaatnya untuk memberdayakan potensi dan prilaku masyarakat agar tercapai kesejahtraan hidup.
Sistem nilai budaya merupakan pencapaian paling abstrak yang paling luhur dari seluruh pandangan hidup (way of life) masyarakat pengusung budayanya, menjadi pendorong dan koridor prilaku dalam  mewujudkan kehidupan yang berperadaban tinggi.
Mengenai mitos C.A. Van Peursen (1992:37) mengatakan “sebuah cerita (lisan) yang memberikan pedoman dan arah tertentu pada sekelompok orang. Inti dari mitos adalah lambang-lambang yang menginformasikan pengalaman manusia purba tentang kebaikan kejahatan, perkawinan dan kesuburan, dosa dan proses katarsisnya”.
Sedangkan Rene Wellek & Austin Warren (1989) menyebutkan sebagai “cerita anonim mengenai penjelasan tentang asal muasal sesuatau, nasib manusia, tingkah laku dan tujuan hidup manusia serta menjadi alat pendidik moral bagi masyarakat pendukung kebudayaan tersebut”.
Demikianlah mitos dikandung dalam folklor adalah sumber pengetahuan mengenai sumber kehidupan manusia pada masa lampau dalam segala aspek. Disusun dalam bentuk sastra lisan sebagai alat transformasi, selain berfungsi sebagai hiburan juga memepunyai pola struktur dan alur yang cukup ajeg dalam menuntun ingatan orang sehingga mudah untuk menuturkannya kembali.
Bila kita simak dunia mitos sangat kaya akan nilai-nilai kemanusiaan yang holistik. Kita dibuat terkagum-kagum menyimak kepiawaian para pujangga/ empu yang mampu menata nilai-nilai kearifan, etika serta estetika kehidupan, dikemas dalam bentuk cerita lisan dengan seluruh aspek sastra dan seni lainnya yang sangat memikat hati. Tidak eksplisit literat namun implisit penuh makna.
Pada masa lampau, hususnya di tatar Sunda, makna filsafat yang terkandung dalam mitos yang telah melegenda, menjadi acuan etika dan estetika bagi masyarakatnya. Kearifan yang demikian bermaknanya, pada saat sekarang semakin pudar. Penyebabnya antaralain derasnya intervensi kebudayaan luar. Keadaan yang mencemaskan ini perlu disiasati denga tekun dan berkesinambungan.
Terlebih lagi “karakteristik kebudayaan sunda yang penuh kelenturan itu di satu sisi memang adaptif, tapi disisi lain dianggap terlalu terbuka menyebabkan terjadinya perubahan cepat. Adalah menjadi tanggung jawab para pendukung kebudayaan tersebut untuk memikirkan kembali (rethinking) untuk memantapkan identitas baru dengan tetap mengacu kepada tradisi yang bernilai dalam budaya Sunda” (budayawan sunda melintasi waktu menangtang masa depan. Prof. H. Judistira K. Garna, Ph. D. Bandung. 2008).
Betapa pentingnya ilmu tentang nilai-nilai kearifan lokal ini seperti disampaikan bahwa ilmu-ilmu kemanusiaan menduduki tempat sentral dalam proses pembangunan terjadi karna pengabdian terhadap ilmu kemanusiaan (dalam etnopedagogi. Prof. Dr.A. Chaedar Alwasilah dkk. 2009 :12).
Dari beberapa pengamatan dalam dunia folklor Sunda memberi adanya keterkaitan antara yang tampak indrawi (fisik, wujud lahir) dengan yang trasadental (meta-fisika, wujud batin) urang sunda bilang “lir peu’eut reujeung amisna” seperti gula dengan rasa manisnya. Atau “kawas lauk jeung kualahna”-seperti ikan denga kolamnya. “tanding iwung jeung bitungna”-seperti rebung dengan bambunya. Tidak terpisahkan.
Menurut penelusuran keterkaitan antara substansi dengan yang esensi terdapat tujuh tahap wawasan berjenjang, dimulai dengan pemaknaan yang berwawasan
a)      Naturalis, terjadinya hubungan manusia dengan alam dan lingkungan hidup seperti apa adanya saja, tanpa koneksitas yang terencana.
b)      Naturalis eksploitasi, berorientasi memanfaatkan alam untuk keuntungan materi yang sebesar-besarnya
c)      Naturalis eksplorasi, pemanpaatan sumberdya alam melalui kualitas penelitian lebih dulu, sehingga tidak semena-mena dalam memperlakukan alam.
d)     Naturalis fungsionalis, pemangfaatan sumberdaya alam dengan sangat memperhitungkan fungsu manfaat dengan kelestariannya.walaupun demikian belum dikaitkan dengan fungsi alam sebagai kekuatan yang benuansakan spiritual.
e)      Naturalis mitis, tumbuh kesadaran bahwa ada konksitas dengan suatu energi /kekuatan yang tidak tampak. Masih sangat bersifat mitos
f)       Naturalis spiritualis/ transedental, pemahaman bahwa ada saling ketergantungan antara manusia dengan alam
g)      Naturalis religius, tumbuh kesadaran optimal adlah rangkaian perjalanan spiritual darai wujud lahir menuju wujud batin menuju ke alam ghaib dan yang ghaibul-ghaib. Jadi kesadaran religius adalah kesadaran dala diri manusia bahwa seluruh alam ini pun dengan sepiritualnya sendiri terus mengalir menuju ke satu tutuk akhir yang juga merupaka titik awal.
Selain itu menurut August Comte (1798-1857)pemikiran manusia tentang segala sesuatu justru dimulai dari
a)      Stadium teologi (pen: religius) yang selalu menerangkan segala sesuatu erdasarkan kajian supranatural yang bersifat imajiner. Tuhan dan yang serba tuhan dianggap hanya bentukan imajiner manusia.
b)      Stadium metafisis yang mendasarkan pengamatan pada asumsi abstrak bersifat sangat spekulatif, yaitu hasil spekulasi metafisik-transendental.
c)      Stadium positif yaitu alalisis berdasarkan pengamatan yang tertib dan itu diartikan berfikir secara nyata yang tampak ada berdasarkan kajian ilmu pengetahuan ilmiah dan empiris dan itu kebenaran yang sejati.



2.2 Mitologi Air dalam Kepercayaan Masyarakat Sunda
Dalam kamus Basa Sunda diterangkan air adala zat cair yang jatuh dari langit ketika sedang hujan. Keterangan yang sama juga tertera dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yaitu zat cair yang biasanya ada dalam sumur, sungai, danau yang bias mendidih dalam cuhu 100˚C.
Dari pandangan para pilsuf, air merupakan salasatu unsur jagat yang penting seperti dalam pandangan pilsuf Yunani, Cina dan India air memiliki peran dalam menjaga keseimbangan alam.
Air merupakan zat yang penting dalam kehidupan, sampai ada beberapa pandangan yang menyebutkan air merupakan sumber dari kehidupan. Dalam masyarakat Sunda air merupakan salah satu bentuk simbol mitologi yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari, baik itu berupa yang berkaitan dengan pisik maupun non pisik.
Seperti yang tergambar dengan dijadikannya unsur air sebagai zat penyuci atau pembersih sejak dulu kala, seperti tertera dalam salah satu pupujian berikut ini
Dupi sadaya cai,
Nu sok dianggé susuci,
Éta aya tujuh rupa,
Walungan nu kahiji,
Cai laut nu kadua,
Cai sumur katiluna,
Cai ibun kaopatna,
Cai és nukalimana,
Cai nyusu nukagenepna,
Cai hujan nuka tujuhna,
Éta cai sadayana,
Sah dianggo susuci
Yang artinya air yang bias dijadikan alat penyuci ada tujuh, air sungai yang pertama, kedua air laut, ketiga air sumur, keempat air embun, kelima air es, keenam air dari mata air, ketujuh air hujan, samua air itu bias digunakan untuk mensucikan diri.
Salasatu jenis puisi lama sunda ini jelas menggambarkan bagai mana masyarak sunda sejak jaman dahulu menganggap air adalah zat yang sangat penting. Bahkan sampai dijelaskan jenis air apa saja yang bias digunakan untuk mensucikan diri. Tentu saja hal ini sangat erat kaitannya dengan kepercayaaan orang suda yang kebayakan menganut agama Islam yang di dalamnya ada berwudu atau mensucukan diri sebelum sembahyang.
Budaya sehat dalam masyarakat tradisional menyangkut tiga hal poko
1.      Asalah penyakit, pencegahannya dan penjagaan kesehatan.
2.      Orang yang berprofesi sebagai penyembuh penyajit yang disebut dukun.
3.      Masalah obat-obatan
Dalam perspektif masyarakat Sunda ketiga hal pokok tersebut sering dikaitkan dengan adanya unsur air dan masalah-masalah yang diluar jangkauan manusia.
Dalam berbagai sumber dapat dikenali bahwa masalah kesehatan dianggap hal yang sangat penting dalam  kehidupan masyarakat sunda seperti tersirat dalam ungkapan “saur sepuh, anu utama badan walagri sarta cageur, leuwih tibatan kakayaan”  kata orang tua lebih utama sehat badan dari pada kekayaan. Hal ini juga tersirat dari sifat ideal yang didambakan masyarakat sunda yaitu cageur, bageur, bener, pinter, singer (kata cageur yang berarti sehat jasmani dan rohani menjadi kata yang pertama dibanding sifat-sifat yang lainnya) kesehatan juga dianggap sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam daur kehidupan manusia, sejak masih dalam kandungan, kemudian dilahirkan sampai mati.
Sumber sejarah Sunda berupa naskah, yaitu Sanghiyang Siksa kandang Karesian, yang diperkirakan ditulis pada abad ke 16 sudah menyebut-nyebut perlunya jampi-jampi atau mantra. Mantra atau jampi dalam masyarakat tradisional dapat merupakan usaha untuk mengusir roh halus atau mengusir penyakit. Dan biasanya media yang dijadikan untuk perantara yaitu media air dengan cara menbacakan jampi-jampi atau mantra kemudian meniupkan ke air tersebut untuk diminim, dioles, dicipratkan bahkan dijadikan campuran air mandi pada sesuatu yang dianggap terkena dampak roh halus atau penyakit.
Unsur-unsur Animisme dan Hindu benar-benar berfungsi sebelum islam masuk. Hal-hal yang bersifat gaib berpadu satu dengan kehidupan sehari-hari. Nasib baik dan buruk selalu dikaitkan dengan kehendak dari kekuatan yang tidak nampak seperti mata air, sungai, genangan air hujan, kawah, telaga, air terjun, bahkan sumur. Jadi roh-roh halus itu ada di tempat kegiatan manusia yang tidak tampak oleh manusia. Ini tersirat oleh adanya mantra-mantra yang secara turun temurun hidup dikalangan masyarakat pedesaan. Oleh sebab itu keberadaan air dalam masyarak sunda menjadi sesuatu yang dianggap tinggi nilainya.
Selain itu juga banyak paribasa (pepatah sunda) yang menjadikan air sebagai simbol perbandingan, selain itu nama air juga dipakai dalam masyarakat Sunda sebagai pelengkap nama penyakit, pelengkap nama makanan, pelengkap nama minuman bahkan air digunakan sebagai pelengkap dari penamaan suatu daérah di Jawa Barat (toponimik).
Bayaknya peran air dalam kehidupan Masyarak Sunda dikarnakan masyarakat Sunda menganggap mitologi air sebagai salasatu bentuk filsapat sunda yang memiliki karakter rendah hati, karna air selamanya tidak ada yang mengalir dari muara ke hulu, walau pun mendapat berbagai rintangan tapi air selamanya mengalir sampai ke muara. Air membawa kehidupan tanpa pernah meminta imbalan.

2.3 Air dalam Perspektif Islam
Para ulama telah membagi air menjadi 4 jenis sesuai dengan hukumnya dalam syariat Islam, yaitu:
1)      air yang suci dan mensucikan (Air Muthlaq) adalah air yang hukumnya suci dan bisa digunakan untuk mensucikan sesuatu. Dalam fiqih dikenal dengan istilah Thahirun Li nafsihi Muthahhirun li ghairihi (suci zatnya dan bisa mensucikan zat yang lain). Air yang suci itu banyak sekali, namun tidak semua air yang suci itu bisa digunakan untuk mensucikan. Air suci adalah air yang boleh digunakan atau dikonsumsi, misalnya air teh, air kelapa atau air-air lainnya. Namun belum tentu bisa digunakan untuk mensucikan seperti untuk berwudhu` atau mandi. Maka ada air yang suci tapi tidak mensucikan namun setiap air yang mensucikan, pastilah air yang suci hukumnya. Diantara air-air yang termasuk dalam kelompok suci dan mensucikan ini antara lain adalah air hujan (Q.S. Al-Anfal:11), salju, embun, air laut, air Zam-zam, air sumur atau mata air, dan air sungai.
2)      Air yang suci tapi tidak mensucikan (air makruh), yaitu air yang suci lagi menyucikan tapi makruh memakainya. Contohnya seperti air panas, air yang sangat sejuk, dan air yang dijemur di kaleng, sebab dikuatirkan penyakit kulit.
3)      Air yang tercampur barang yang suci (air musta’mal) yaitu air yang sedikit sudah dipakai wudhu atau bekas dipakai mencuci kotoran (najis).
4)      Air yang tidak suci lantaran tercampur dengan benda yang najis yaitu air yang sedikit dan tidak cukup dua qullah dan bercampur dengan najis meskipun air tersebut tidak berubah warnanya, baunya dan rasanya, ataupun air yang banyak lebih dari dua qullah tetapi berobah dengan campuran najis (kotoran).
Kalimat air di dalam Al-Qur’an berjumlah 53 dan terdapat pada 50 ayat. Disini akan dijelaskan beberapa yat mengenai keajaiban, fungsi beserta keutamaannya.
“Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang berpikir”. (Q.S. An-Nahl: 69)
“… dan Kami Jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air…” (Q.S. Al Anbiya:30).
Dalam kitab-kitab tafsir klasik, ayat tadi diartikan bahwa tanpa air semua akan mati kehausan. Tetapi di Jepang, Dr. Masaru Emoto dari Universitas Yokohama dengan tekun melakukan penelitian tentang perilaku air. Air murni dari mata air di Pulau Honshu didoakan secara agama Shinto, lalu di dinginkan sampai -5oC di laboratorium, lantas difoto dengan mikroskop elektron dengan kamera kecepatan tinggi.
Ternyata molekul air membentuk kristal segi enam yang indah. Percobaan diulangi dengan membacakan kata, "Arigato (terima kasih dalam bahasa Jepang)" di depan botol air tadi. Kristal kembali membentuk sangat indah. Lalu dicoba dengan menghadapkan tulisan huruf Jepang, "Arigato". Kristal membentuk dengan keindahan yang sama. Selanjutnya ditunjukkan kata "setan", kristal berbentuk buruk. Diputarkan musik Symphony Mozart, kristal muncul berbentuk bunga.
Ketika musik heavy metal diperdengarkan, kristal hancur. Ketika 500 orang berkonsentrasi memusatkan pesan "peace" di depan sebotol air,kristal air tadi mengembang bercabang-cabang dengan indahnya. Dan ketika dicoba dibacakan doa Islam, kristal bersegi enam dengan lima cabang daun muncul berkilauan. Subhanallah. Dr. Emoto akhirnya berkeliling dunia melakukan percobaan dengan air di Swiss, Berlin, Prancis, Palestina, Yordania kemudian diundang ke Markas Besar PBB di New York untuk mempresentasikan temuannya pada bulan Maret 2005 lalu. Ternyata air bisa "mendengar" kata-kata,bisa "membaca" tulisan, dan bisa "mengerti" pesan. Dalam bukunya The Hidden Message in Water, Dr. Masaru Emoto menguraikan bahwa air bersifat bisa merekam pesan, seperti pita magnetik atau compact disk.
Semakin kuat konsentrasi pemberi pesan, semakin dalam pesan tercetak di air. Air bisa mentransfer pesan tadi melalui molekul air yang lain. Barangkali temuan ini bisa menjelaskan, kenapa air putih yang didoakan bisa menyembuhkan si sakit. Dulu ini kita anggap musyrik, atau paling sedikit kita anggap sekadar sugesti, tetapi ternyata molekul air itu menangkap pesan doa kesembuhan, menyimpannya, lalu vibrasinya merambat kepada molekul air lain yang ada di tubuh si sakit. Tubuh manusia memang 75% terdiri atas air, otak 74,5% air, darah 82% air. Tulang yang keras pun mengandung 22% air.
Air putih galon di rumah, bisa setiap hari didoakan dengan khusyu kepada Allah, agar anak yang meminumnya saleh, sehat, dan cerdas, dan agar suami yang meminum tetap setia. Air tadi akan berproses di tubuh meneruskan pesan kepada air di otak dan pembuluh darah. Dengan izin Allah, pesan tadi akan dilaksanakan tubuh tanpa kita sadari. Bila air minum di suatu kota didoakan dengan serius untuk kesalehan, Insya Allah semua penduduk yang meminumnya akan menjadi baik dan tidak beringas. Rasulullah saw. Bersabda: “Zamzam lima syuriba lahu", yang artinya "Air zamzam akan melaksanakan pesan dan niat yang meminumnya". Barangsiapa minum supaya kenyang, dia akan kenyang. Barangsiapa minum untuk menyembuhkan sakit, dia akan sembuh. Pantaslah air zamzam begitu berkhasiat karena dia menyimpan pesan doa jutaan manusia selama ribuan tahun sejak Nabi Ibrahim a.s. Bila kita renungkan berpuluh ayat Al Quran tentang air, kita akan tersentak bahwa Allah rupanya selalu menarik perhatian kita kepada air.
Bahwa air tidak sekadar benda mati. Dia menyimpan kekuatan, daya rekam, daya penyembuh, dan sifat-sifat aneh lagi yang menunggu disingkap manusia. Islam adalah agama yang paling melekat dengan air. Shalat wajib perlu air wudhu 5 kali sehari. Habis bercampur, suami istri wajib mandi. Mati pun wajib dimandikan. Tidak ada agama lain yang menyuruh memandikan jenazah, malahan ada yang dibakar. Semua ini memperjelas peran air dalam perspektif islam.